Bermula
dari datangnya surat misterius yang menggemparkan kampung Tinggar. Surat itu
berisi :
Assalamuaikum
warahmatullah wabarakatuh
Semoga kamu tidak
terkejut menerima surat ini.
Aku adalah sosok
kesepian. Mungkin kamu kaget. Tapi, begitulah adanya. Penyanjungku banyak,
sangat banyak-bahkan di negeri ini, juga di Lombok. Jumlahnya berjubel-tapi
sebagian besar mereka jarang menemaniku. Jangankan setiap hari atau sekali
seminggu, sekali setahunpun mereka jarang menyapaku, kecuali dalam sholat.
Hanya segelintir, ya,
kelompok sangat kecil, yang berusaha tetap setia menyapaku. Mereka menegurku
dengan benng jiwa mereka. Tak apalah, walau mereka menyapaku saat jiwa mereka
dilanda dilanda kesedihan. Aku tetap bahagia, tersenyum melihat mereka. Tapi
aku selalu merasa ada yang kurang. Bahkan, seolah ada tembok yang memisahkanku
dengan mereka. Kami tidak bisa saling icara, dari hati ke hati. Ketika kami
duduk berdua, tak ada kata terucap. Hanya embus angin terdengar. Aku sangat memahami
kemasygulan jiwa mereka, tapi mereka tak menangkap api semangatku. Aku
menyesali situasi ini. tapi aku juga tak tau harus melakukan apa.
Aku sudah berusaha
berbicara dengan bahasa mereka, tetapi tetap saja mereka memaksakan diri
berbicara dengan bahasa ibuku, bahasa pertamaku, alau mereka tidak paham.
Padahal, aku tidak pernah mewajibkan mereka berbicara dengan bahasa ibuku. Dan
berkali-kali kukatakan bahwa aku dapat berbicara dengan bahasa kedua, ketiga,
dan seterusnya sebaik bahasa pertamaku. Bahasa pertamaku adalah bahasa ibuku,
tetapi aku tidak pernah menganggap bahasa pertamaku sebagai bahasa yang wajib
mereka pahami. Semua bahasa bagiku sama, karena aku bisa berbicara dengan
bahasa apa saja. Karena semua bahasa asalnya satu. Aku dan bahasa-bahasa itu
adalah satu. Satu yang sama.
Kadang-kadang
terlintas pikiran berikut. Entahlah, mungkin ini jadi salah satu sebabnya. Atas
nama cinta mereka kepadaku mereka membuat syarat yang ketat agar orang tidak
sembarangan berbicara denganku.mereka harus melalui berbagai saringan kemampuan
untuk memastikan bahwa orang yang berbicara denganku adalah terpilih, memiliki
standard kecerdasan tertentu, dan yang paling layak. Tentu, aku merasa bangga.
Tersanjung. Kuucapkan banyak terima kasih kepada mereka.
Tetapi sesuatu yang
mungkin tak terpikirkan sebelumnya terjadi: tiba-tiba aku merasa sedih karena
orang-orang malah menjauhiku. Mereka takut mendekat, karena merasa tak layak.
Mereka tak berani bicara langsung kepadaku. Kalaupun bicara, mereka tak duduk
disampingku, mereka berjarak beberapa hasta dariku, dengan kepala tertunduk,
tidak berani mendekat, apalagi menatapku. Aku benar-benar kesepian.
Padahal aku sangat
ingin duduk berdampingan dengan mereka, membelai, menatap, melamuri mereka
dengan cahaya agar bisa memahami apa yang sungguh kuinginkan., meskipun dengan
terbata-bata.
Aku sudah berkali-kali
katakan bahwa aku datang untuk semua lapisan manusia, semua tingkat kecerdasan.
Aku datang untuk para kepala negara, para diplomat, para ilmuwan dan cerdik
pandai, pengusaha, penulis, wartawan, materi, dan lain-lain. Tetapi aku juga
datang untuk para pedagang di pasar-pasar, para nelayan di lautan, dan para
petani disawah. Aku pun datang untuk para buruh, juga para kuli. Aku datang
untuk semuanya. Aku membuka diri untuk siapa saja, bahkan bagi mereka yang
sampai saat ini membenciku, tak menerima kehadiranku. Maka, datanglah kepadaku.
Jangan khawatirkan segala persyaratan itu.
Melalui surat terbuka
menyampaikan ini, aku mohon bantuanmu, juga teman-temanmu, untuk kepada siapa saja
bahwa aku hadir untuk kalian semua, tanpa peduli ras, warna kulit, tingkat
kecerdasan, bahkan agama kalian. Darimanapun kalian berasal, datanglah,
datanglah. Aku disini untuk semuanya.
Sekian dulu surat
pertamaku. Nanti kita sambung lagi. Semoga damai dan kasih sayang Allah yang
menyayangi dan Mencintai tercurahmu. Untukmu, selalu. Amin.
Dari surat
itu, hati dari beberapa orang yang ada di Kampung Tinggar tersebut. Beberapa
dari mereka termasuk Miq Saeni, salah satu tokoh yang ada di kampung Tinggar,
dan kawan-kawannya berusaha untuk merubah cara tadarussan mereka, merubah cara
mereka dalam memahami dan mempelajari Al-Quran. Mereka menempuhnya dengan cara
berdiskusi dan salaing melengkapi dalam membahas satu-persatu dari makna yang
terkandung dalam Kitabullah, Al-Quran.
Pintu ke-6 Kesuksesan.
Tuhan, bentangkan
dihadapan kami jalan yang lurus, jalan kebenaran.
(Terjemahan Maknawiyah QS Al-Fatihah [1]:6)
Pada
suatu hadis, diibaratkan jalan kebenaran adalah suatu jalan yang memiliki garis
lurus dan pada kedua tepi jalan itu ada tembok dengan pintu-pintu terbuka. Pada
pintu-pintu itu ada tabir yang terurai. Tepat diatas gerbang jalan lurus itu
ada penyeru yang berkata :”Wahai manusia, masuklah kalian ke jalan yang lurus
itu dan jangan melenceng.” Sepanjang jalan lurus itu, ada penyeru diatasnya.
Dan apabila ada yang ingin membuka pintu yang berjejer pada dinding di kedua
sisinya, ia berkata “ Awas! Jangan buka pintu itu, jika kalian buka, kalian
akan terperosok ke dalam.”
Dari
hadis diatas ada 5 faktor penting yang disebutkan, yang pertama, jalan lurus
yaitu Islam. Kedua, dua dinding yaitu batasan Allah. Ketiga, pintu-pintu yang
berderet terbuka yaitu semua yang diharamkan Allah SWT. Keempat, penyeru diatas
pintu gerbang yaitu Kitabullah. Dan, kelima, penyeru yang berada disepanjang
jalan lurus itu, yaitu wa’izhullah- kata hati yang dibisikkan Allah.
Dari ayat
dan hadis ini dapat diambil beberapa pelajaran.
1.
Mengingatkan
kita untuk selalu berada di jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran.
2.
Kita
diperintahkan berdoa untuk mendapatkan petunjuk (kesadaran, takwa, serta
kesadaran bahwa Allah selalu ada mengawasi kita) dan untuk dapat mewujudkan
nilai-nilai Islam sepanjang jalan lurus itu, sepanjang masa hidup kita.
3.
Dalam
setiap kegiatan kita, seharusnya kita mengikuti kata hati kita,suara hati yang
condong ke arah kebenaran, yaitu petunjuk yang diberikan Allah kepada setiap
hamba-Nya.
4.
Membiasakan
mendengarkan kata hati, membersihkan hati melalui pembiasaan dan pendisiplinan
pada suatu perbuatan yang baik (riyadhah) dan berpikiran yang baik-baik
(positif).
5.
Berusaha
selalu belajar, menuntut ilmu dan banyak bertanya untuk mengasah kesadaran kita
akan adanya petunjuk yang Allah telah tebarkan yaitu berupa hidayah dan
ilham-Nya kepada manusia.
Dengan hal-hal
diatas, diharapkan kita dapat mengetahui jalan mana yang berada dalam cahaya
Allah, dan mana yang dalam kegelapan dan murka-Nya.
discover this cheap sex toys,wholesale sex toys,horse dildo,dildos,dildo,vibrators,male sex dolls,cheap sex toys,sex chair Look At This
BalasHapusmy blog dildos,male masturbator,bulk sex dolls,dog dildo,horse dildo,male masturbator,sex chair,dog dildo,sex dolls visit
BalasHapusys267 nfl shop,cheap jerseys,cheap jerseys,wholesale nfl jerseys,nfl shop,cheap nfl jerseys,nfl jerseys,cheap jerseys,wholesale jerseys tt096
BalasHapus