BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Al-Quran merupakan kitab yang menjadi
petunjuk dan pedoman utama bagi seluruh umat manusia yang beriman. Allah SWT
telah mewahyukan kitab ini kepada Nabi Muhammmad SAW sebagai penuntun dan
rujukan manusia dalam bersikap dan menjalani kehidupan.
Membaca dan mempelajari Al-quran merupakan
suatu kebutuhan bagi manusia selain
sebagai salah satu perintah dari Allah SWT. Untuk memenuhi kebutuhannya
ini, manusia dituntut untuk dapat membaca Al-Quran yang menggunakan bahasa
Arab. Tidak jarang saat ini sudah banyak Al-Quran yang disertai dengan
terjemahan untuk memudahkan pembaca untuk memahami makna dan kandungan di dalam
Al-Quran.
Tapi keadaan dan kondisi tidak selalu sesuai
dan kondusif untuk bisa membuka dan membaca Al-Quran. Adanya siklus yang
mengakibatkan seseorang (muslimah) untuk tidak memegang Al-Quran selama belum
bersuci. Selain itu, ancaman terhadap hal-hal yang tidak di inginkan juga
merupakan salah satu faktor terhalangnya manusia untuk membaca Al-Quran.
Sebagai contoh, pada saat diculik, perang, pada saat berjalan jauh, sedang
dikendaraan, dan sebagainya.
Hal-hal diatas adalah penyebab dan pendorong
agar manusia khususnya kaum muslimin dapat menghafal Al-Quran. Dan oleh karena
itu Allah SWT memberikan beberapa keutamaan bagi hambanya yang menghafal dan
memahami serta mangamalkan Al-Quran. Apabila kita hafal, maka hal itu akan
memudahkan kita untuk senantiasa dekat dengan Al-Quran yaitu firman Allah SWT.
Dewasa ini, banyak metode-metode yang dapat
menjadi rujukan untuk bisa diterapkan dalam menghafal Al-Quran. Karena setiap
orang memiliki waktu luang yang berbeda-beda sehingga metode yang cocok untuk
dipakai juga berbeda. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti dan
menjabarkan beberapa metode menghafal Al-Quran. Sehingga, dapat memberi gambaran
metode apa saja yang bisa dipakai dalam menghapal Al-Quran dan pembaca dapat
menjadi rujukan serta menambah semangat dalam menghafal Al-Quran.
1.2. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang di atas penulis dapat
merincikan masalah- masalah, atara lain yaitu:
1. Apa
saja keutamaan menghafal Al-Quran?
2. Metode-metode
apa saja yang dapat digunakan dalam menghafal Al-Quran?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan Rumusan masalah diatas, penulis
memiliki tujuan-tujuan, antara lain yaitu:
1. Mengatahui
apa saja keutamaan menghafal Al-Quran.
2. Mengetahui
ragam metode-metode yang dapat digunakan dalam menghafal Al-Quran.
.
1.4.
1.4. Manfaat
Penelitian
Adapun yang penulis harapkan dengan
dilakukannya penelitian ini, dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Sebagai
referensi dalam memilih metode menghafal Al-Quran
2. Memberikan
gambaran bagaimana proses menghafal Al-Quran
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1.
Tinjauan
Teori
Keagungan
dan kemuliaan Al-Quran sebagai pedoman hidup umat manusia memiliki beberapa
keistimewaan, Salah satunya bagi penghafal Al-Quran. Keistimewaan tersebuat yaitu
mendapat kedudukan sebagai keluarga Allah SWT. Menurut Anas ra. bahwa
Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang
terdiri daripada manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah s.a.w
bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: “Iaitu ahli
Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya). Mereka
adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.
Selain
dirinya sendiri orang yang menghafal Al-Quran akan memberikan keistimewaan bagi
orang tuanya di akhirat kelak. Daripada Buraidah Al Aslami ra, ia berkata
bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: “Pada hari kiamat nanti,
Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya.
Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: “Apakah
anda mengenalku?”, p enghafal tadi menjawab; “saya tidak mengenal kamu.”
Al-Quran berkata; “Saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di
tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya
setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada
hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan
di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas
kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua
pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia
keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: “kenapa kami di beri dengan
pakaian begini?”. Kemudian di jawab, “kerana anakmu hafal Al Quran.”
Menurut
firman Allah pada surah Al-Qamar ayat 17 ““Dan sesungguhnya telah Kami
mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”.
Hal ini menjelaskan bahwa Al-Quran berkorelasi positif dengan ilmu pengetahuan
yang dipelajari manusia, sehingga dalam mempelajarinya Allah SWT memberikan
kemudahan.
Jadi,
menurut hadis dan ayat diatas, dalam menjalankan kewajiban kita sebagai manusia
untuk mempelajari ilmu pengetahuan kita harus merujuk pada Al-Quran yang
bersumber dari Allah SWT yang memiliki segala ilmu dan yang Maha Benar. Untuk
mempermudah mempelajari Al-Quran, maka lebih utama kita menghafalkannya
menggunakan metode yang sesuai dengan kemampuan dan kelebihan kita.
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
Dalam bab ini akan digambarkan bagaimana langkah atau
strategi peniliti dalam menjawab perumusan masalah penelitian, yang hasil dari
jawaban atas perumusan masalah tersebut akan diuraikan dalam bab selanjutnya
yaitu bab hasil penelitian dan pembahasan.
3.1. Hipotesis Peneliti
Dalam menghafalkan Al-Quran, setiap orang memiliki cara dan metode yang tentunya berbeda-beda. Metode – metode tersebut dilakukan sesuai dengan kemampuan dan kecocokan dengan otak. Dan diharapkan dengan penggunaan metode-metode tersebut individu dapat mengingat dan menghafal lebih cepat serta tahan lama. Metode inilah yang dapat diterapkan sehingga menghafalpun menjadi lebih mudah dan menyenangkan.
3.2. Jenis Penelitian
3.1. Hipotesis Peneliti
Dalam menghafalkan Al-Quran, setiap orang memiliki cara dan metode yang tentunya berbeda-beda. Metode – metode tersebut dilakukan sesuai dengan kemampuan dan kecocokan dengan otak. Dan diharapkan dengan penggunaan metode-metode tersebut individu dapat mengingat dan menghafal lebih cepat serta tahan lama. Metode inilah yang dapat diterapkan sehingga menghafalpun menjadi lebih mudah dan menyenangkan.
3.2. Jenis Penelitian
Berdasarkan sifat data dan cara atau teknik
analisis data yang digunakan, penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian penjelasan
(description research). Penelitian ini akan mengemukakan dan memberi
gambaran mengenai metode-metode dalam menghafalkan Al-Quran.
3.3. Data dan Pengumpulan Data
3.3. Data dan Pengumpulan Data
Peneliti
menggunakan data primer sebagai sumber dalam proses penelitian ini. Adapun data
tersebut antara lain :
1. Data
dari berbagai artikel yang bersumber dari internet. 2. Data dari pengalaman-pengalaman yang telah ada dari para penghafal Al-Quran.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Keutamaan Menghafal Al-Quran
Menghafal
Al-Quran bukan merupakan suatu yang diwajibkan oleh Allah SWT, tetapi menghafal
Al-Quran merupakan suatu hal yang dapat memberikan keutamaan bagi penghafalnya
baik dari Allah SWT, Rasulullah, maupun manusia yang lain. Atau dapat dikatakan
penghafal Al-Quran akan mendapatkan suatu keistimewaan baik dari sisi dunia
maupun ketika di akhirat kelak. Bahkan, apabila melihat dari sisi kondisipun,
penghafal Al-Quran dapat menghidupkan hati mereka setiap saat dengan membaca
Al-Quran dalam kondisi apapun. Rasulullah SAW lewat beberapa hadis mendorong
kita untuk menghafalkan Al-Quran atau membacanya diluar kepala, agar hati kita
tidak kosong dari kitab Allah SWT. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu Abbas secara marfu`: “Orang yang tidak mempunyai hapalan Al Quran
sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang akan runtuh.“ (HR Tirmidzi)
Menghafal Al-Quran menurut Imam
Nawawi adalah fardu kifayah. Fardu kifayah maksudnya yaitu kewajiban yang
ditunjukkan kepada semua mukallaf atau sebagian dari mereka yang apabila
diantaranya melaksanakan, maka akan mengugurkan dosa yang lainnya yang tidak
ikut melaksanakan. Apabila tidak ada seeorangpun yang melaksanakan kewajiban
tersebut, maka dosanya akan ditanggung bersama. Karena dapat menggugurkan dosa
yang lain, maka inilah yang mengistimewakan para penghafal Al-Quran.
Selain itu ada
beberapa keutamaan bagi penghafal Al-Quran, diantaranya adalah.
1
1.Mendapatkan ridho Allah SWT
Adapun dalil
dari keutamaan yang pertama ini yaitu, “Penghafal Quran akan datang pada hari kiamat dan AlQuran
berkata: “Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia. Kemudian orang itu dipakaikan mahkota
karamah (kehormatan). AlQuran kembali meminta: Wahai Tuhanku, ridhailaih dia,
maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan
teruslah naiki (derajat-derajat surga). Dan Allah menambahkan dari setiap ayat
yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (HR Tirmidzi)
Dalam surah
Faathir ayat ke 29-30, Allah menyebutkan "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab
Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami
anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu
mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan
kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." Dari ayat tersebut Allah menjelaskan
bahwa Allah akan memberikan karunia-Nya bagi hamba-Nya yang selalu membaca
kitab Allah. Oleh sebab itu, untuk dapat selalu membaca dan mengingat Allah SWT
melalui ayat-ayat Al-Quran, kita lebih baik menghafalkannya agar tidak ada
waktu yang kita lewatkan selain mengingat Allah SWT.
2. Mendapatkan
kehormatan dari Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memberikan kedudukan
serta mengedepankan para penghafal Al-Quran dibandingkan yang lain. Dari
Abi Hurarirah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang
terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca
dan hapalan Al Quran mereka: setiap laki-laki dari mereka
ditanyakan sejauh mana hapalan Al Quran-nya. Kemudian seseorang yang paling
muda ditanya oleh Rasulullah SAW : “Berapa banyak Al Quran yang telah engkau
hapal, hai pulan?” ia menjawab: aku telah hapal surah ini dan surah ini,
serta surah Al Baqarah. Rasulullah SAW kembali bertanya: “Apakah engkau
hapal surah Al Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah SAW bersabda:
“Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang dari
kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari
dan menghapal surah Al Baqarah semata karena aku takut tidak dapat
menjalankan isinya.
Mendengar
komentar itu, Rasulullah SAW bersabda: “Pelajarilah Al Quran dan
bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari Al Quran dan
membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan
minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang
mempelajarinya kemudia ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hapalan Al Quran—
adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak
misik.“
Dalam
kondisi sholat, kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi
imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum
adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)
3. Menolong
dirinya untuk menggapai derajat mulia
Dibawakan Dari Abdullah bin ‘Amr,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Dikatakan
kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah
serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu
adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no.
1464 dan Tirmidzi no. 2914, shahih kata Syaikh Al Albani). Yang dimaksudkan
dengan ‘membaca’ dalam hadits ini adalah menghafalkan Al Qur’an. Seperti dalam
perkataan Syaikh Al Albani berikut dalam As Silsilah Ash Shohihah no.
2440: “Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan shohibul qur’an (orang yang
membaca Al Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati
sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam yang lain, ‘Suatu kaum akan dipimpin oleh orang yang paling
menghafal kitabullah (Al Qur’an).’
Selain itu Allah juga menaikan
derajat bagi penghafal Al-Quran dalam salah satu syarat sebagai pengemban
kedudukan sebagai imam dalam shalat berjamaah, seperti dalam hadis berikut, "Yang
menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya." (HR.
Muslim)
Hal-hal diatas adalah sebagian dari
sebagian besar keutamaan bagi hamba Allah SWT yang berusaha untuk menghafal
Al-Quran. Hafalan yang berlanjut dengan usaha untuk mempelajari maknanya serta
untuk mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari di dunia.
4.2. Metode dalam Menghafal Al-Quran
Dalam merealisasikan niat dan keinginan kita untuk bisa menghafalkan alquran diperlukan cara yang tepat. Cara yang tepat akan melahirkan efektivitas dan efesiensi kerja serta kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan lebih. Karena niat yang kuat dan lurus yang disertai dengan cara yang tepat akan menghasilkan sesuatu yang istimewa.
Setiap cara akan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dalam hal ini peneliti membagi sub bab cara kedalam dua bagian yaitu metode atau teknik dan tips-tips. Ketiga bagian ini akan saling melengkapi dalam menerapkan cara untuk menghafal Al-Quran.
A. Jenis Metode Dalam Menghafal Al-Quran
Metode-metode yang dapat digunakan sebagai referensi cara sangat beragam. Diantaranya sebagai berikut
4.2. Metode dalam Menghafal Al-Quran
Dalam merealisasikan niat dan keinginan kita untuk bisa menghafalkan alquran diperlukan cara yang tepat. Cara yang tepat akan melahirkan efektivitas dan efesiensi kerja serta kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan lebih. Karena niat yang kuat dan lurus yang disertai dengan cara yang tepat akan menghasilkan sesuatu yang istimewa.
Setiap cara akan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dalam hal ini peneliti membagi sub bab cara kedalam dua bagian yaitu metode atau teknik dan tips-tips. Ketiga bagian ini akan saling melengkapi dalam menerapkan cara untuk menghafal Al-Quran.
A. Jenis Metode Dalam Menghafal Al-Quran
Metode-metode yang dapat digunakan sebagai referensi cara sangat beragam. Diantaranya sebagai berikut
1.
Metode (Thariqah) Kitabah
Kitabah artinya menulis. Metode menulis yang di maksud disini
adalah metode menghafal Al-Qur’an yang di awali dengan menulis ayat-ayat yang
akan di hafal terlebih dahulu, seperti hal nya kebiasaan mahasiswa Al Azhar
yang menghafalkan isi muqorror lewat talkhisan yang ditulis oleh sendiri. Pada metode ini, penulis terlebih
dahulu menulis ayat-ayat yang akan dihafalnya pada secarik kertas yang telah
disediakan untuknya. Kemudian ayat-ayat tersebut dibacanya sehingga lancar dan
benar bacaannya, lalu dihafalkannya.
Kelebihan
dari metode ini adalah cukup praktis dan baik, karena disamping membaca dengan
lisan, aspek visual menulis juga akan sangat membantu dalam mempercepat
terbentuknya pola hafalan dalam bayangannya, dan sekaligus melatih
santri/penghafal untuk menulis tulisan arab.
Metode
ini masih ada sampai sekarang. Karena apa yang kita tulis kemudian di hafal
maka akan menjadikan kekuatan hafalan akan lebih kuat. Salah satu negara yang menerapkan
metode ini adalah negara Maroko. Di Maroko santri-santri penghafal Al-Quran
harusmenulis semua ayat Al-Quran yang akan dihafalnya. Ayat-ayat tersebut
ditulis di atas papan, setelah itu ayat yang telah ditulis tersebut diteliti
oleh sang guru dan di chek apabila terdapat kesalahan, kesalahan tersebut
kemudian dibenarkan. Ayat-ayat yang sudah dibenarkan tersebut kemudian di baca
oleh santri secara berulang-ulang dengan badan yang dihadapkan ke papan sampai
hafal. Tahap akhirnya kemudian dilanjutkan dengan membacakan ayat-ayat yang
telah dihafal tersebut ke depan guru tanpa melihat tulisan.
Metode
ini dianggap istimewa dikarenakan dapat menambah tingkat ketelitian santri
ketika menuliskan ayat-ayat
Al-Quran tersebut. Selain itu menurut Ustad Ali, salah seorang pengajar di
Pondok Pesantren Darul Quran ada keistimewaan lain selain menambah ketelitian,
yaitu menambah konsentrasi dan kefokusan santri yang menghafal Al-Quran hanya
pada ayat-ayat yang ingin dihafalkannya disamping keistimewaan kesabaran.
Kesabaran akan latihan untuk menulis ayat-ayat Al-Quran yang sebenarnya tanpa
menulispun mereka dapat menghafalkan ayat-ayat tersebut.
2.
Metode Tasmi’ (Thariqah/Sima’i)
Metode
ini juga bisa di lakukan sebagai proses menghafal Al-Qur’an. Metode yang kerap
diapakai oleh saudara-saudara di sana yang memeliki kekurangan dalam hal
penglihatan atau anak kecil yang masih belum lancar dalam membaca Al-Quran. .
Metode
ini bisa di lakukan dengan berbagai macam cara, bisa langsung mendengarkan dari
guru atau kaset. Sebenarnya metode ini juga sudah di ajarkan di dalam Al-Qur’an
surat Al-Qiyamah ayat 18. Yang artinya “Apabila kami telah selesai
membacakannya (Al-Qur’an) maka ikutilah bacaannya itu.”
Sima’i artinya mendengar. Yang
dimaksud dengan metode ini ialah mendengarkan sesuatu bacaan al-Quran untuk
dihafalkannya. Metode ini sangat efektif bagi penghafal yang memiliki daya
ingat ekstra, terutama bagi penghafal tunanetra, atau anak-anak yang masih
dibawah umur yang belum mengenal tulis baca Al-Quran.
3.
Metode tasalsuli (menghafal
secara berantai)
Metode
tasalsuli yaitu menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan cara menghafal satu
ayat sampai hafal dengan lancar, kemudian pindah ke ayat kedua sampai
benar-benar lancar, setalah itu, gabungkan ayat 1 dengan ayat 2 tanpa melihat
mushaf. Jangan berpindah ke ayat selanjutnya kecuali ayat sebelumnya lancar,
begitu juga seterusnya ayat ketiga sampai satu halaman, kemudian gabungkan dari
ayat pertama sampai terakhir . Cara ini membutuhkan kesabaran dan sangat
melelahkan karena harus banyak mengulang-ngulang setiap ayat yang sudah hafal
kemudian digabungkan dengan ayat sebelumnya sehingga menguras banyak energi,
tetapi akan menghasilkan hafalan yang benar-benar mantap.
4.
Metode jam’ii (menghafal
secara menggabungkan)
Metode jam’ii
yaitu menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan cara menghafal satu ayat sampai
lancar, kemudian bepindah ke ayat kedua, setelah ayat kedua lancar berpindah ke
ayat ketiga, begitu juga seterusnya sampai satu halaman. Kemudian setelah dapat
mengahafal satu halaman, menggabungkan hafalan dari ayat pertama sampai
terakhir tanpa melihat mushaf. Ini juga kalau mampu digabungkan satu halaman
sekaligus, kalau dianggap sulit, maka dibagi dua menjadi setengah halaman
dengan melihat mushaf terlebih dahulu dan setelah itu, membacanya tanpa melihat
mushaf. Dan setengah yang kedua pun demikian, setelah lancar, maka gabungkan
setengah pertama dan setengah kedua dengan cara dihafal.
5.
Metode muqsam (menghafal
dengan cara membagi-bagi)
Metode muqsam
yaitu menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan cara membagi-bagi menjadi
beberapa bagian, setiap bagian itu menghafalnya secara tasalsul (mengulangi
dari awal), setelah tiap-tiap bagian telah sempurna (satu halaman) dihafal,
kemudian disatukan/digabungkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya
sampai seluruh bagian dapat digabungkan tanpa melihat mushaf .
Metode ini pertengahan antara metode tasalsul dan jam’ii.
6.
Metode (Thariqah) Wahdah
Yang
dimaksud dengan metode ini, yaitu menghafal satu persatu terhadap ayat yang hendak
dihafalnya. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat bisa dibaca sebanyak
sepuluh kali atau dua puluh kali, atau lebih sehingga proses ini mampu
membentuk pola dalam bayangannya. Dengan demikian penghafal akan mampu
mengkondisikan ayat-ayat yang dihafalkannya bukan saja dalam bayangannya, akan
tetapi hingga benar-benar membentuk gerak refleks pada lisannya.
Salah satu bentuk penerapan dari
metode ini yaitu,
·
Bacalah
ayat pertama sebanyak 20 kali.
·
Bacalah
ayat kedua sebanyak 20 kali.
·
Bacalah
ayat ketiga sebanyak 20 kali.
·
Bacalah
ayat keempat sebanyak 20 kali
·
Keempat
ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20
kali.
·
Bacalah
ayat kelima sebanyak 20 kali.
·
Bacalah
ayat keenam sebanyak 20 kali.
·
Bacalah
ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
·
Bacalah
ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
·
Keempat
ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang
sebanyak 20 kali.
·
Bacalah
ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
·
Demikian
seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam
Al-Quran.
7.
Metode (Thariqah) Jama’i
Yang
dmaksud dengan metode ini ialah cara menghafal yang dilakukan secara
bersama-sama, dipimpin oleh seorang instruktur/pembimbing.
Pertama: pembimbing membacakan satu
ayat atau beberapa ayat dan siswa menirukan secara bersama-sama. Kemudian
instruktur membimbingnya dengan mengulang kembali ayat-ayat tersebut dan siswa
mengikutinya.
Kedua: setelah ayat-ayat itu
dapat mereka baca dengan baik dan benar, selanjutnya mereka mengikuti bacaan
instruktur dengan sedikit demi sedikit mencoba melepaskan mushaf, demikian
seterusnya sampai ayat-ayat itu benar-benar hafal.
8. Metode
Pemahaman Pra Menghafal
Metode
ini sebenarnya sangat efektif dan bagus namun sulit di terapkan di usia dini (
sebelum baligh ), karena untuk bisa pada tingkatan mampu memahami Al-Qur’an
membutuhkan waktu yang lama. Metode ini juga akan sangat membantu seseorang di
dalam menyelesaikan target hafalannya, karena seseorang yang telah paham dengan
isi ayat, maka ia akan lebih cepat menghafalkannya dan sangat membantu
menguatkan hafalan. Sehingga tidak heran jika orang arab bisa leih cepat ketika
menghafal Al-Qur’an di banding dengan orang asing, karena mereka di bantu dengan
kemapuan bahasa mereka sendiri yaitu bahasa arab. Maka untuk menggunakan metode
ini orang asing ( ‘ajam ) harus mempelajari bahasa arab dulu sebagai perangkat
untuk bisa memahami Al-Qur’an sebelum ia menghafal Al-Qur’an.
9.
Metode Hanifida
Metode
Hanifida yaitu metode yang dalam prakteknya menggunakan model dengan system
asosiasi, yaitu objek yang dihafal dihubungkan dengan kalimat atau kata yang
mudah dan akrab ditelinga atau pikiran kita. Hanifida diambil dari nama pembuat
system hafalan tersebut, yaitu ustadz Hanifuddin
Mahadun dan ustadzah Kheirotul Idawati. Kedua pasangan pendakwah yang
berasal dari daerah Jombang. Sistem Metode ini diperkenalkan dan telah
dipatenkan sejak tahun 2006 lalu.
Pada prinsipnya semua metode di atas baik sekali untuk dijadikan pedoman menghafal Al-Quran, baik salah satu di antaranya, atau dipakai semuanya sesuai dengan kebutuhan dan sebagai alternatif dari pada cara menghafal yang terkesan monoton, sehingga degan demikian akan menghilangkan kejenuhan dalam proses menghafal Al-Quran.
B. KIAT-KIAT MENGHAFAL AL-QURAN
Selain metode atau teknik, dalam menghafal Al-Quran juga memerlukan beberapa kiat atau tips agar pelaksanannya lebih efisien, antara lain
1. Menggunakan mushaf yang sama, hal ini dilakukan agar mudah menghafal. Karena setiap mushaf memiliki struktur dan huruf yang tidak sama.Saat kita mengafal melalui membaca, mata kita juga memotret setiap huruf dan halaman yang kita lihat. Jadi saat kita mengulang lagi dengan mushaf yang sama maka mata kita akan mengkonfirmasi karena sudah kenal dengan strukturnya. Sedangkan jika kita menggunakan mushaf lain berarti kita mengulangi proses dari awal lagi sehingga menimbulkan kebingungan. Saat kita menggunakan mushaf yang sama maka otak kita akan menangkap setiap kata, setiap baris dan setiap posisi dengan sempurna.
2. Memilih waktu yang tepat dalam menghafal ataupun menambah hafalan atau bisa dilakukan dengan mengatur time schedule atau jadwal diri sendiri. Diantara waktu yang dapat dipilih, ada waktu-waktu tertentu yang diasumsikan pas untuk menghafal antara lain sebelum tidur malam (membaca sekilas serta menghafal kasar terlebih dahulu) dan sesudah bangun tidur (dalam keadaan yang serius dan lebih konsentrasi.
3. Memberi tanda kesalahan dengan mencatatnya (dibawah atau diatas huruf yang lupa), hal ini dilakukan setelah 95 % hafal. Member tanda diperuntukan agar tidak lupa dan menjadikan kesalahan tersebut focus utama unutuk memperbaiki diri.
4. Bersabar untuk tidak menambah materi dan hafalan baru kecuali materi dan hafalan lama benar-benar sudah dikuasai dan disahkan atau dianggap lulus oleh pengetes
5. Jangan menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalan bertambah berat sehingga tidak bisa menghafalnya.
6. Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal.
7. Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.
8. Apabila telah menghafal 30 juz Al-Quran, mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari.
BAB V
KESIMPULAN
Al-Quran
merupakan kitab istimewa umat Islam sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Oleh karena itu, menghafalkannya pun merupakan kegiatan yang memiliki keutamaan
bahkan kemudahan sebagai jalan manusia untuk selalu ingat kepada Allah SWT
dalam kondisi apapun.
Banyak cara
yang digunakan untuk dapat menghafalkan Al-Quran. Diantara banyaknya cara dan
metode tersebut, tergantung dari individu masing-masing untuk mengenali
kemampuan potensi diri serta kenyamanan terhadap suatu metode. Karena, manusia
diciptakan memiliki potensi dan kemampuan dalam hal yang berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA
http://imanamalsoleh.wordpress.com/2009/09/15/metode-menghafal-alquran-yang-luar-biasa/http://keutamaan-keutamaanmenghafalalquran.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar