Sabtu, 02 Agustus 2014

METODE—METODE YANG DIGUNAKAN DALAM MENINGKATKAN EFISIENSI MENGHAFAL AL-QURAN



 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Al-Quran merupakan kitab yang menjadi petunjuk dan pedoman utama bagi seluruh umat manusia yang beriman. Allah SWT telah mewahyukan kitab ini kepada Nabi Muhammmad SAW sebagai penuntun dan rujukan manusia dalam bersikap dan menjalani kehidupan.
Membaca dan mempelajari Al-quran merupakan suatu kebutuhan bagi manusia selain  sebagai salah satu perintah dari Allah SWT. Untuk memenuhi kebutuhannya ini, manusia dituntut untuk dapat membaca Al-Quran yang menggunakan bahasa Arab. Tidak jarang saat ini sudah banyak Al-Quran yang disertai dengan terjemahan untuk memudahkan pembaca untuk memahami makna dan kandungan di dalam Al-Quran.

Tapi keadaan dan kondisi tidak selalu sesuai dan kondusif untuk bisa membuka dan membaca Al-Quran. Adanya siklus yang mengakibatkan seseorang (muslimah) untuk tidak memegang Al-Quran selama belum bersuci. Selain itu, ancaman terhadap hal-hal yang tidak di inginkan juga merupakan salah satu faktor terhalangnya manusia untuk membaca Al-Quran. Sebagai contoh, pada saat diculik, perang, pada saat berjalan jauh, sedang dikendaraan, dan sebagainya.
Hal-hal diatas adalah penyebab dan pendorong agar manusia khususnya kaum muslimin dapat menghafal Al-Quran. Dan oleh karena itu Allah SWT memberikan beberapa keutamaan bagi hambanya yang menghafal dan memahami serta mangamalkan Al-Quran. Apabila kita hafal, maka hal itu akan memudahkan kita untuk senantiasa dekat dengan Al-Quran yaitu firman Allah SWT.
Dewasa ini, banyak metode-metode yang dapat menjadi rujukan untuk bisa diterapkan dalam menghafal Al-Quran. Karena setiap orang memiliki waktu luang yang berbeda-beda sehingga metode yang cocok untuk dipakai juga berbeda. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti dan menjabarkan beberapa metode menghafal Al-Quran. Sehingga, dapat memberi gambaran metode apa saja yang bisa dipakai dalam menghapal Al-Quran dan pembaca dapat menjadi rujukan serta menambah semangat dalam menghafal Al-Quran. 

1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas penulis dapat merincikan masalah- masalah, atara lain yaitu:
1.    Apa saja keutamaan menghafal Al-Quran?
2.    Metode-metode apa saja yang dapat digunakan dalam menghafal Al-Quran? 

1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan Rumusan masalah diatas, penulis memiliki tujuan-tujuan, antara lain yaitu:
1.    Mengatahui apa saja keutamaan menghafal Al-Quran.
2.    Mengetahui ragam metode-metode yang dapat digunakan dalam menghafal Al-Quran.
.

1.4.        1.4. Manfaat Penelitian
Adapun yang penulis harapkan dengan dilakukannya penelitian ini, dapat memberikan manfaat antara lain:
1.    Sebagai referensi dalam memilih metode menghafal Al-Quran
2.    Memberikan gambaran bagaimana proses menghafal Al-Quran




BAB II
KAJIAN TEORI  
2.1.        Tinjauan Teori
Keagungan dan kemuliaan Al-Quran sebagai pedoman hidup umat manusia memiliki beberapa keistimewaan, Salah satunya bagi penghafal Al-Quran. Keistimewaan tersebuat yaitu mendapat kedudukan sebagai keluarga Allah SWT. Menurut Anas ra. bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah s.a.w bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: “Iaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.
Selain dirinya sendiri orang yang menghafal Al-Quran akan memberikan keistimewaan bagi orang tuanya di akhirat kelak. Daripada Buraidah Al Aslami ra, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah s..a.w bersabda: “Pada hari kiamat nanti, Al Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: “Apakah anda mengenalku?”, p enghafal tadi menjawab; “saya tidak mengenal kamu.” Al-Quran berkata; “Saya adalah kawanmu, Al Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Quran tadi di beri kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: “kenapa kami di beri dengan pakaian begini?”. Kemudian di jawab, “kerana anakmu hafal Al Quran.”
Menurut firman Allah pada surah Al-Qamar ayat 17 “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. Hal ini menjelaskan bahwa Al-Quran berkorelasi positif dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari manusia, sehingga dalam mempelajarinya Allah SWT memberikan kemudahan.
Jadi, menurut hadis dan ayat diatas, dalam menjalankan kewajiban kita sebagai manusia untuk mempelajari ilmu pengetahuan kita harus merujuk pada Al-Quran yang bersumber dari Allah SWT yang memiliki segala ilmu dan yang Maha Benar. Untuk mempermudah mempelajari Al-Quran, maka lebih utama kita menghafalkannya menggunakan metode yang sesuai dengan kemampuan dan kelebihan kita.



BAB III 
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini akan digambarkan bagaimana langkah atau strategi peniliti dalam menjawab perumusan masalah penelitian, yang hasil dari jawaban atas perumusan masalah tersebut akan diuraikan dalam bab selanjutnya yaitu bab hasil penelitian dan pembahasan.

 3.1. Hipotesis Peneliti 
Dalam menghafalkan Al-Quran, setiap orang memiliki cara dan metode yang tentunya berbeda-beda. Metode – metode tersebut dilakukan sesuai dengan kemampuan dan kecocokan dengan otak. Dan diharapkan dengan penggunaan metode-metode tersebut individu dapat mengingat dan menghafal lebih cepat serta tahan lama. Metode inilah yang dapat diterapkan sehingga menghafalpun menjadi lebih mudah dan menyenangkan. 

3.2. Jenis Penelitian
Berdasarkan sifat data dan cara atau teknik analisis data yang digunakan, penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian penjelasan (description research). Penelitian ini akan mengemukakan dan memberi gambaran mengenai metode-metode dalam menghafalkan Al-Quran.

 3.3. Data dan Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan data primer sebagai sumber dalam proses penelitian ini. Adapun data tersebut antara lain :
1.    Data dari berbagai artikel yang bersumber dari internet. 
2.    Data dari pengalaman-pengalaman yang telah ada dari para penghafal Al-Quran.



BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Keutamaan Menghafal Al-Quran
            Menghafal Al-Quran bukan merupakan suatu yang diwajibkan oleh Allah SWT, tetapi menghafal Al-Quran merupakan suatu hal yang dapat memberikan keutamaan bagi penghafalnya baik dari Allah SWT, Rasulullah, maupun manusia yang lain. Atau dapat dikatakan penghafal Al-Quran akan mendapatkan suatu keistimewaan baik dari sisi dunia maupun ketika di akhirat kelak. Bahkan, apabila melihat dari sisi kondisipun, penghafal Al-Quran dapat menghidupkan hati mereka setiap saat dengan membaca Al-Quran dalam kondisi apapun. Rasulullah SAW lewat beberapa hadis mendorong kita untuk menghafalkan Al-Quran atau membacanya diluar kepala, agar hati kita tidak kosong dari kitab Allah SWT. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu`:  “Orang yang tidak mempunyai hapalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh  yang akan runtuh.“ (HR Tirmidzi)
            Menghafal Al-Quran menurut Imam Nawawi adalah fardu kifayah. Fardu kifayah maksudnya yaitu kewajiban yang ditunjukkan kepada semua mukallaf atau sebagian dari mereka yang apabila diantaranya melaksanakan, maka akan mengugurkan dosa yang lainnya yang tidak ikut melaksanakan. Apabila tidak ada seeorangpun yang melaksanakan kewajiban tersebut, maka dosanya akan ditanggung bersama. Karena dapat menggugurkan dosa yang lain, maka inilah yang mengistimewakan para penghafal Al-Quran.
Selain itu ada beberapa keutamaan bagi penghafal Al-Quran, diantaranya adalah.

1 1.Mendapatkan ridho Allah SWT
Adapun dalil dari keutamaan yang pertama ini yaitu, “Penghafal Quran akan datang pada hari kiamat dan AlQuran berkata: “Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia. Kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan). AlQuran kembali meminta: Wahai Tuhanku, ridhailaih dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga). Dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (HR Tirmidzi)
Dalam surah Faathir ayat ke 29-30, Allah menyebutkan "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." Dari ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan karunia-Nya bagi hamba-Nya yang selalu membaca kitab Allah. Oleh sebab itu, untuk dapat selalu membaca dan mengingat Allah SWT melalui ayat-ayat Al-Quran, kita lebih baik menghafalkannya agar tidak ada waktu yang kita lewatkan selain mengingat Allah SWT.

2.    Mendapatkan kehormatan dari Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memberikan kedudukan serta mengedepankan para penghafal Al-Quran dibandingkan yang lain. Dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang  terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al Quran  mereka: setiap laki-laki dari  mereka ditanyakan sejauh mana hapalan Al Quran-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW : “Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hapal, hai pulan?” ia menjawab: aku telah hapal surah ini dan surah ini, serta  surah Al Baqarah. Rasulullah SAW kembali bertanya: “Apakah engkau hapal surah Al Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah SAW bersabda: “Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang  dari kalangan mereka yang terhormat berkata:  Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghapal surah Al Baqarah semata karena  aku takut tidak dapat menjalankan isinya.
Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda:   “Pelajarilah Al Quran dan bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari Al  Quran dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan  minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudia ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hapalan Al Quran— adalah seperti  tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik.“
Dalam kondisi sholat, kepada hafizh Al Qur’an, Rasul SAW menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

3.    Menolong dirinya untuk menggapai derajat mulia
Dibawakan Dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914, shahih kata Syaikh Al Albani). Yang dimaksudkan dengan ‘membaca’ dalam hadits ini adalah menghafalkan Al Qur’an. Seperti dalam perkataan Syaikh Al Albani berikut dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 2440: “Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan shohibul qur’an (orang yang membaca Al Qur’an) di sini adalah orang yang menghafalkannya dari hati sanubari. Sebagaimana hal ini ditafsirkan berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain, ‘Suatu kaum akan dipimpin oleh orang yang paling menghafal kitabullah (Al Qur’an).
Selain itu Allah juga menaikan derajat bagi penghafal Al-Quran dalam salah satu syarat sebagai pengemban kedudukan sebagai imam dalam shalat berjamaah, seperti dalam hadis berikut, "Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya." (HR. Muslim)

Hal-hal diatas adalah sebagian dari sebagian besar keutamaan bagi hamba Allah SWT yang berusaha untuk menghafal Al-Quran. Hafalan yang berlanjut dengan usaha untuk mempelajari maknanya serta untuk mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari di dunia.

  4.2. Metode dalam Menghafal Al-Quran 
Dalam merealisasikan niat dan keinginan kita untuk bisa menghafalkan alquran diperlukan cara yang tepat. Cara yang tepat akan melahirkan efektivitas dan efesiensi kerja serta kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan lebih. Karena niat yang kuat dan lurus yang disertai dengan cara yang tepat akan menghasilkan sesuatu yang istimewa.
Setiap cara akan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dalam hal ini peneliti membagi sub bab cara kedalam dua bagian yaitu metode atau teknik dan tips-tips. Ketiga bagian ini akan saling melengkapi dalam menerapkan cara untuk menghafal Al-Quran. 

A. Jenis Metode Dalam Menghafal Al-Quran 

Metode-metode yang dapat digunakan sebagai referensi cara sangat beragam. Diantaranya sebagai berikut
1.    Metode (ThariqahKitabah
Kitabah artinya menulis. Metode menulis yang di maksud disini adalah metode menghafal Al-Qur’an yang di awali dengan menulis ayat-ayat yang akan di hafal terlebih dahulu, seperti hal nya kebiasaan mahasiswa Al Azhar yang menghafalkan isi muqorror lewat talkhisan yang ditulis oleh sendiri. Pada metode ini, penulis terlebih dahulu menulis ayat-ayat yang akan dihafalnya pada secarik kertas yang telah disediakan untuknya. Kemudian ayat-ayat tersebut dibacanya sehingga lancar dan benar bacaannya, lalu dihafalkannya.
Kelebihan dari metode ini adalah cukup praktis dan baik, karena disamping membaca dengan lisan, aspek visual menulis juga akan sangat membantu dalam mempercepat terbentuknya pola hafalan dalam bayangannya, dan sekaligus melatih santri/penghafal untuk menulis tulisan arab.
Metode ini masih ada sampai sekarang. Karena apa yang kita tulis kemudian di hafal maka akan menjadikan kekuatan hafalan akan lebih kuat. Salah satu negara yang menerapkan metode ini adalah negara Maroko. Di Maroko santri-santri penghafal Al-Quran harusmenulis semua ayat Al-Quran yang akan dihafalnya. Ayat-ayat tersebut ditulis di atas papan, setelah itu ayat yang telah ditulis tersebut diteliti oleh sang guru dan di chek apabila terdapat kesalahan, kesalahan tersebut kemudian dibenarkan. Ayat-ayat yang sudah dibenarkan tersebut kemudian di baca oleh santri secara berulang-ulang dengan badan yang dihadapkan ke papan sampai hafal. Tahap akhirnya kemudian dilanjutkan dengan membacakan ayat-ayat yang telah dihafal tersebut ke depan guru tanpa melihat tulisan.
Metode ini dianggap istimewa dikarenakan dapat menambah tingkat ketelitian santri ketika menuliskan ayat-ayat Al-Quran tersebut. Selain itu menurut Ustad Ali, salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Darul Quran ada keistimewaan lain selain menambah ketelitian, yaitu menambah konsentrasi dan kefokusan santri yang menghafal Al-Quran hanya pada ayat-ayat yang ingin dihafalkannya disamping keistimewaan kesabaran. Kesabaran akan latihan untuk menulis ayat-ayat Al-Quran yang sebenarnya tanpa menulispun mereka dapat menghafalkan ayat-ayat tersebut.


2.    Metode Tasmi’ (Thariqah/Sima’i)
Metode ini juga bisa di lakukan sebagai proses menghafal Al-Qur’an. Metode yang kerap diapakai oleh saudara-saudara di sana yang memeliki kekurangan dalam hal penglihatan atau anak kecil yang masih belum lancar dalam membaca Al-Quran. .
Metode ini bisa di lakukan dengan berbagai macam cara, bisa langsung mendengarkan dari guru atau kaset. Sebenarnya metode ini juga sudah di ajarkan di dalam Al-Qur’an surat Al-Qiyamah ayat 18. Yang artinya “Apabila kami telah selesai membacakannya (Al-Qur’an) maka ikutilah bacaannya itu.”
Sima’i artinya mendengar. Yang dimaksud dengan metode ini ialah mendengarkan sesuatu bacaan al-Quran untuk dihafalkannya. Metode ini sangat efektif bagi penghafal yang memiliki daya ingat ekstra, terutama bagi penghafal tunanetra, atau anak-anak yang masih dibawah umur yang belum mengenal tulis baca Al-Quran.

3.    Metode tasalsuli (menghafal secara berantai)
Metode tasalsuli yaitu menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan cara menghafal satu ayat sampai hafal dengan lancar, kemudian pindah ke ayat kedua sampai benar-benar lancar, setalah itu, gabungkan ayat 1 dengan ayat 2 tanpa melihat mushaf. Jangan berpindah ke ayat selanjutnya kecuali ayat sebelumnya lancar, begitu juga seterusnya ayat ketiga sampai satu halaman, kemudian gabungkan dari ayat pertama sampai terakhir . Cara ini membutuhkan kesabaran dan sangat melelahkan karena harus banyak mengulang-ngulang setiap ayat yang sudah hafal kemudian digabungkan dengan ayat sebelumnya sehingga menguras banyak energi, tetapi akan menghasilkan hafalan yang benar-benar mantap.

4.    Metode jam’ii (menghafal secara menggabungkan)
      Metode jam’ii  yaitu menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan cara menghafal satu ayat sampai lancar, kemudian bepindah ke ayat kedua, setelah ayat kedua lancar berpindah ke ayat ketiga, begitu juga seterusnya sampai satu halaman. Kemudian setelah dapat mengahafal satu halaman, menggabungkan hafalan dari ayat pertama sampai terakhir tanpa melihat mushaf. Ini juga kalau mampu digabungkan satu halaman sekaligus, kalau dianggap sulit, maka dibagi dua menjadi setengah halaman dengan melihat mushaf terlebih dahulu dan setelah itu, membacanya tanpa melihat mushaf. Dan setengah yang kedua pun demikian, setelah lancar, maka gabungkan setengah pertama dan setengah kedua dengan cara dihafal.

5.    Metode muqsam (menghafal dengan cara membagi-bagi)
Metode muqsam  yaitu menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan cara membagi-bagi menjadi beberapa bagian, setiap bagian itu menghafalnya secara tasalsul (mengulangi dari awal), setelah tiap-tiap bagian telah sempurna (satu halaman) dihafal, kemudian disatukan/digabungkan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya sampai seluruh bagian dapat digabungkan tanpa melihat mushaf  . Metode ini pertengahan antara metode tasalsul dan jam’ii.

6.    Metode (ThariqahWahdah
Yang dimaksud dengan metode ini, yaitu menghafal satu persatu terhadap ayat yang hendak dihafalnya. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat bisa dibaca sebanyak sepuluh kali atau dua puluh kali, atau lebih sehingga proses ini mampu membentuk pola dalam bayangannya. Dengan demikian penghafal akan mampu mengkondisikan ayat-ayat yang dihafalkannya bukan saja dalam bayangannya, akan tetapi hingga benar-benar membentuk gerak refleks pada lisannya.
Salah satu bentuk penerapan dari metode ini yaitu,
·         Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
·         Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
·         Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
·         Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
·         Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
·         Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
·         Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
·         Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
·         Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
·         Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
·         Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
·         Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran.
7.     Metode (ThariqahJama’i
Yang dmaksud dengan metode ini ialah cara menghafal yang dilakukan secara bersama-sama, dipimpin oleh seorang instruktur/pembimbing.
Pertama: pembimbing membacakan satu ayat atau beberapa ayat dan siswa menirukan secara bersama-sama. Kemudian instruktur membimbingnya dengan mengulang kembali ayat-ayat tersebut dan siswa mengikutinya.
Kedua: setelah ayat-ayat itu dapat mereka baca dengan baik dan benar, selanjutnya mereka mengikuti bacaan instruktur dengan sedikit demi sedikit mencoba melepaskan mushaf, demikian seterusnya sampai ayat-ayat itu benar-benar hafal.

8.    Metode Pemahaman Pra Menghafal
Metode ini sebenarnya sangat efektif dan bagus namun sulit di terapkan di usia dini ( sebelum baligh ), karena untuk bisa pada tingkatan mampu memahami Al-Qur’an membutuhkan waktu yang lama. Metode ini juga akan sangat membantu seseorang di dalam menyelesaikan target hafalannya, karena seseorang yang telah paham dengan isi ayat, maka ia akan lebih cepat menghafalkannya dan sangat membantu menguatkan hafalan. Sehingga tidak heran jika orang arab bisa leih cepat ketika menghafal Al-Qur’an di banding dengan orang asing, karena mereka di bantu dengan kemapuan bahasa mereka sendiri yaitu bahasa arab. Maka untuk menggunakan metode ini orang asing ( ‘ajam ) harus mempelajari bahasa arab dulu sebagai perangkat untuk bisa memahami Al-Qur’an sebelum ia menghafal Al-Qur’an.

9.    Metode Hanifida
Metode Hanifida yaitu metode yang dalam prakteknya menggunakan model dengan system asosiasi, yaitu objek yang dihafal dihubungkan dengan kalimat atau kata yang mudah dan akrab ditelinga atau pikiran kita. Hanifida diambil dari nama pembuat system hafalan tersebut, yaitu ustadz Hanifuddin Mahadun dan ustadzah Kheirotul Idawati. Kedua pasangan pendakwah yang berasal dari daerah Jombang. Sistem Metode ini diperkenalkan dan telah dipatenkan sejak tahun 2006 lalu.

Pada prinsipnya semua metode di atas baik sekali untuk dijadikan pedoman menghafal Al-Quran, baik salah satu di antaranya, atau dipakai semuanya sesuai dengan kebutuhan dan sebagai alternatif dari pada cara menghafal yang terkesan monoton, sehingga degan demikian akan menghilangkan kejenuhan dalam proses menghafal Al-Quran. 

B. KIAT-KIAT MENGHAFAL AL-QURAN 
 Selain metode atau teknik, dalam menghafal Al-Quran juga memerlukan beberapa kiat atau tips agar pelaksanannya lebih efisien, antara lain 
1.    Menggunakan mushaf yang sama, hal ini dilakukan agar mudah menghafal. Karena setiap mushaf memiliki struktur dan huruf yang tidak sama.Saat kita mengafal melalui membaca, mata kita juga memotret setiap huruf dan halaman yang kita lihat. Jadi saat kita mengulang lagi dengan mushaf yang sama maka mata kita akan mengkonfirmasi karena sudah kenal dengan strukturnya. Sedangkan jika kita menggunakan mushaf lain berarti kita mengulangi proses dari awal lagi sehingga menimbulkan kebingungan.  Saat kita menggunakan mushaf yang sama maka otak kita akan menangkap setiap kata, setiap baris dan setiap posisi dengan sempurna.   

2.    Memilih waktu yang tepat dalam menghafal ataupun menambah hafalan atau bisa dilakukan dengan mengatur time schedule atau jadwal diri sendiri. Diantara waktu yang dapat dipilih, ada waktu-waktu tertentu yang diasumsikan pas untuk menghafal antara lain sebelum tidur malam (membaca sekilas serta menghafal kasar terlebih dahulu) dan sesudah bangun tidur (dalam keadaan yang serius dan lebih konsentrasi.

 3.    Memberi tanda kesalahan dengan mencatatnya (dibawah atau diatas huruf yang lupa), hal ini dilakukan setelah 95 % hafal. Member tanda diperuntukan agar tidak lupa dan menjadikan kesalahan tersebut focus utama unutuk memperbaiki diri.

 4.    Bersabar untuk tidak menambah materi dan hafalan baru kecuali materi dan hafalan lama benar-benar sudah dikuasai dan disahkan atau dianggap lulus oleh pengetes

5.    Jangan menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalan bertambah berat sehingga tidak bisa menghafalnya. 

6.    Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. 

7.   Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua. 

8. Apabila telah menghafal 30 juz Al-Quran, mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari.



BAB V
KESIMPULAN 
Al-Quran merupakan kitab istimewa umat Islam sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, menghafalkannya pun merupakan kegiatan yang memiliki keutamaan bahkan kemudahan sebagai jalan manusia untuk selalu ingat kepada Allah SWT dalam kondisi apapun.
Banyak cara yang digunakan untuk dapat menghafalkan Al-Quran. Diantara banyaknya cara dan metode tersebut, tergantung dari individu masing-masing untuk mengenali kemampuan potensi diri serta kenyamanan terhadap suatu metode. Karena, manusia diciptakan memiliki potensi dan kemampuan dalam hal yang berbeda-beda.




DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar